Showing posts with label Perikanan. Show all posts
Showing posts with label Perikanan. Show all posts

Saturday, July 2, 2011

Budidaya LAT Air Tawar

Posted by agrobisnisindonesia |

Bila Anda sudah bosen dengan budidaya jenis ikan-ikanan darat, mungkin cobalah budidaya yang satu ini. Sering salah kaprah kalau jenis binatang ini hanya hidup di lautan, ternyata ada pula yang hidup di perairan darat. Nah, dari sekian banyak jenis lobster air tawar yang ada, yang paling layak dan mudah untuk dibudidayakan adalah yang berjenis cherax quadricarinatus atau biasa disebut red claw. Selain dagingnya cukup banyak (dan lezat tentunya), juga mudah dalam pemeliharaannya. Bahkan gizi yang dikandung si lobster ini lebih baik dan non kolesterol.
Unsur mudah dalam pemeliharaan ini sangat penting ditekankan, mengingat tidak hanya berkaitan dengan biaya operasional yang harus reasonable, tapi juga masalah fleksibilitas tempat pengembangbiakan. Bagi yang punya keterbatasan lahan, budidaya lobster ini bisa juga dilakukan di bak-bak artifisial semacam wadding pool anak-anak, box stereofom, hingga talang air.
Secara umum, budidaya lobster air tawar (kita singkat aja dengan LAT) dibagi dalam dua jenis, yaitu pembibitan dan pembesaran. Kalau pembibitan lebih mengarah kepada produksi bibit yang dijual untuk pembesaran, sedangkan pembesaran lebih mengarah kepada usaha pembesaran bibit-bibit LAT hingga pada ukuran yang dianggap layak untuk dikonsumsi. Namun bisa pula antara proses pembibitan dan pembesaran dijadikan satu.
Modal awalnya adalah Anda harus memiliki beberapa sepasang indukan. Dengan memiliki indukan yang sehat dan memenuhi protap (prosedur tetap), proses pembibitan akan lebih baik. Meski terkesan mudah dalam proses beternak LAT, namun saya sarankan untuk mengikuti pelatihan beternak hewan cantik ini. Selain bisa langsung paham dengan praktek, biasanya bisa berguru langsung kepada peternak yang sudah mapan. Bintaro Fish Center yang dimiliki oleh Ir. CunCun Setiawan merupakan salah satu tempat latihan beternak LAT yang layak direkomendasikan.
Masalah harga pasar, sebenarnya cukup menjanjikan. Namun karena pangsa pasarnya masih belum mature, maka seringkali harga pasar tidak bisa dijadikan patokan. Tapi secara ekonomis budidaya ini cukup menjanjikan. Permintaan atas LAT ini tiap tahun semakin meningkat, terutama untuk daerah Jabodetabek dan pangsa pasar ekspor. Untuk lebih jelasnya, bisa Anda lihat di http://www.lobsterairtawar.com/ atau
http://www.lobsterkingsfarm.com/. Lebih enaknya lagi tinggal Anda buka google dan ketikkan lobster air tawar.
Anda tertarik mencobanya?
Sumber berita:http://onestopinformation.wordpress.com/category/agrobisnis/

Tuesday, June 28, 2011

IKAN KOI

Posted by agrobisnisindonesia |

Bentuk badannya bisa dilihat saat koi berenang, karena bentuk badan yang sempurna akan berpengaruh langsung pada gaya berenangnya. Demikian pula Sebaliknya. Walaupun seekor koi mempunyai corak warna yang sangat indah dan montok, tapi Jika sirip-nya tidak lengkap, koi tersebut dinilai jelek. Walaupun tidak mutlak, Sebaiknya kedua sisi badannya simetris. Dan harus diingat, seekor induk betina yang sedang “mengandung” perutnya lebih buncit. Ini Jangan disalahartikan bahwa ikan koi tersebut perutnya tidak normal. Harus diingat pula, ada dua bentuk badan yang abnormal yaitu: cacat dan kurang makan. Jika seekor koi tak bersirip atau mata-nya hilang sebelah, jelas koi tersebut cacat dan Jangan sekali-kali dipilih kendati dijual murah. Namun Jika ada koi berperut buncit di salah satu sisi badannya, atau ada sebuah rongga kecil pada kepalanya, kalau kita berminat koi seperti itu boleh diambil, dengan harga miring tentu!
Secara rinci, bentuk badan yang harus diperhatikan adalah seperti berikut:
1. Garis punggung lurus dan punggung melengkung wajar
Jika kita perhatikan dari atas, garis punggung koi harus terlihat lurus dan ketika mereka bergerak meliuk punggungnya melengkung dengan wajar. Jika dilihat dari samping, maka garis sebelah atas badannya dan bawah badannya membentuk lengkung yang wajar. Artinya, sebelah atas badannya tidak boleh terlalu melengkung, tapi sebelah bawah juga Jangan sampai membentuk garis lurus. Koi yang ketika berenang membentuk lengkungan yang tajam pada badannya sendiri tidak pantas untuk dipilih.
2. Sirip tumbuh sempurna dan cantik
Sirip yang cantik dan besarnya sesuai dengan badannya, menjadikan koi tampak cantik. Yang paling penting di antara semua sirip adalah sirip dada. Sirip ini tidak boleh cacat karena penyakit atau cacat bawaan. Beberapa koi yang karena keku-rangan makan biasanya mempunyai sirip yang kerdil (kecil).
Sirip ekor dan sirip punggung koi sering ditemu-kan cacat. Begitu pula halnya dengan sirip perut atau sirip anal. Usahakan memilih koi yang mempunyai bentuk sirip sempurna.
3. Kepala berbentuk sempurna
Beberapa wajah koi enak dilihat, tapi beberapa lagi tidak. Ada koi yang mempunyai hidung bersan-dar ke depan, dan sebagian lagi ada yang mancung. Bentuk hidung koi ini, kendati berbeda, keduanya dianggap kurang bagus. Yang bagus adalah koi dengan bentuk hidung yang wajar, tidak terlalu menonjol, tapi juga tidak tenggelam dalam timbun-an daging.
Cacat rahang paling menentukan. Boleh jadi cacat ini disebabkan oleh penyakit gill root (akar insang) yang menyerang koi ketika masih kecil. Cacat yang disebabkannya sangat besar pengaruhnya terhadap penilaian koi. Kepala koi menjadi besar dan lebar, dan sangat tidak enak dipandang. Penyakit ini memang mempengaruhi bentuk mulut dan insang. Antara mata, mulut, dan rahang harus sama bagusnya dan membentuk suatu bangunan yang serasi dan sempurna.
4. Perbandingannya serasi
Perbandingan antara panjang, lebar, dan tinggi merupakan kunci bagus tidaknya koi. Yang dimak-sudkan di sini adalah angka paling besar antara perbandingan panjang badan dan tinggi adalah satu. Itu yang paling bagus. Namun pada umumnya angka rasio ini berkisar antara 1-2,6 hingga 1-3,0 dan biasanya angka ini sudah cukup memadai.
Ada beberapa terapi yang saya lakukan jika membeli ikan koi baru sebelum saya masukkan ke dalam kolam ikan koi-ku.
  1. Menghilangkan kutu ikan. Dengan kasat mata kutu ikan yang menempel pada badan ikan koi akan kelihatan dengan mata telanjang. Bisa saja kutu2 tersebut kita ambil dengan tangan, akan tetapi sangat mengganggu ikan (ikan akan stress) dan tidak semua kutu bisa diambil apalagi yang masih telur atau yang kecil-kecil. Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan merendam ikan tersebut dalam larutan abate (obat untuk membasmi jentik nyamuk) dengan dosis sesuai dengan yang tertera pada abate selama kurang lebih 2 jam. Dengan abate ini kutu-kutu tersebut akan mati (kelihatan kok dengan mata telanjang).
  2. Setelah terapi pertama, kemudian saya lakukan terapi kedua, yaitu merendam ikan koi tersebut dengan larutan elbayu atau pomad, untuk menyembuhkan luka-luka dan berbagai penyakit yang mungkin ada dalam tubuh ikan tersebut. Biasanya hal ini saya lakukan selama 12-14 jam.
  3. Setelah terapi pertama dan kedua, baru ikan koi dimasukkan ke dalam kolam ikan koi.
  4. Yang perlu diperhatikan adalah : gunakan air yang telah diendapkan selama 12-24 jam untuk melakukan terapi baik itu terapi dengan menggunakan abate maupun terapi dengan menggunakan elbayu. Selain itu jika dirasa perlu, gunakan gelembung udara selama melakukan terapi. Gunakan penutup kasa pada ember atau media untuk terapi karena ikan yang baru kita beli biasanya suka loncat.
Dengan terapi yang sederhana itu ikan koi yang baru kita beli dapat kita masukan ke dalam kolam koi dan tidak menularkan penyakit pada ikan koi kita yang sudah berada di dalam kolam koi. Dan jangan lupa untuk waspada, karena ikan koi yang baru kita beli biasanya suka loncat dari kolam koi.
Sumber berita:http://intan02.wordpress.com/2009/02/04/

Kiat Melakukan Pembibitan Belut

Posted by agrobisnisindonesia |

Untuk membibitkan belut yang diperlukan adalah pengetahuan tentang pemilihan belut untuk dijadikan indukan. Ada yang unik dalam kehidupan sex belut, ada yang beranggapan bahwa antara belut bisa bertukar jenis kelamin.

Pada awal tumbuh dewasa, belut akan cenderung untuk berjenis kelamin betina yang mempunyai telur yang siap untuk dibuahi. Setelah terjadi proses alami perkawinan dan telah menetaskan telur makan induk betina tadi otomatis berubah menjadi induk jantan.

Tetapi ada juga belut yang akhirnya tidak tumbuh kelamin sehingga disebut belut banci. Ciri-ciri belut yang sudah bisa dijadikan indukan adalah :
  1. Umur belut sekitar 3-5 bulan.
  2. Agresif dan sangat lincah bergerak.
  3. Tubuh induk harus bersih dan mulus tidak ada luka.
  4. Tubuh keras.
Ciri-ciri belut jantan :
  1. Bentuk kepala tumpul.
  2. Panjang badan lebih dari 30 cm.
  3. Bentuk ekor kurang lancip.
  4. Berumur lebih dari 7 bulan
Ciri-ciri belut betina :
  1. Bentuk kepala runcing.
  2. Panjang badan kurang dari 30 cm.
  3. Bentuk ekor lancip.
  4. Berumur kurang dari 7 bulan.
Untuk melakukan perkawinan, belut mempunyai perilaku yang khas. Jadi perilaku ini harus diamati untuk kesuksesan dalam membibitkan belut. Proses dan tahap belut melakukan reproduksi adalah sebagai berikut :
  1. Biasanya belut dewasa akan saling "menjajaki" pasangannya dengan cara melihat-lihat dan bergerombol. Belut betina akan mencari belut jantan untuk membuahi telur yang sudah siap untuk dikeluarkan dari perutnya.
  2. Pada waktu bergerombol itulah nantinya akan ditemukan masing-masing pasangan belut sesuai dengan nalurinya. Biasanya pasangannya tidak terlalu jauh dalam hal ukuran tubuh. Tubuh belut jantan akan sedikit lebih besar dibandingkan dengan tubuh belut betina.
  3. Sebelum pembuahan biasanya belut jantan akan membuat lubang/sarang untuk kawin. Setelah menemukan pasangannya, pasangan itu akan berenang menuju sarng yang sudah dipersiapkan dan perkawinan akan terjadi di tempat ini.
  4. Setelah beberapa hari dari proses perkawinan pada permukaan air akan muncul busa berwarna putih kekuningan. Belut betina akan meyimpan telur yang dikeluarkan dari perutnya pada busa tersebut. Setelah mengeluarkan telur belut betina akan pergi mencari makan dengan cara membuat lubang persembunyian dan menunggu mangsanya dari situ. Sedangkan telur yang berda pada busa itu akan ditunggui oleh induk jantan.
  5. Setelah 1-7 hari telur belut akan menetas, selama itu pula busa yang menyimpan telur itu akan bertahan. Selama proses telur sampai menetas menjadi larva, belut jantan akan selalu menjaganya.
  6. Setelah menetas menjadi benih maka benih belut ini harus mencari makan sendiri. Belut termasuk binatang kanibal sehingga sebaiknya jika memelihara belut usahakan mepunyai ukuran yang seimbang supaya kanibalisme bisa ditekan. Jika benih sudah ada sebaiknya dipisahkan dan dibuatkan kolam yang berbeda dengan belut dewasa lainnya.
Belut bisa bereproduksi lebih dari satu kali dalam satu siklusnya. Ini disesuaikan dengan tingkat kesuburan masing-masng induk betina.
Sumber berita:http://www.infoagrobisnis.com/2009/05/kiat-melakukan-pembibitan-belut.html

Teknik Budidaya Ikan Bawal Tawar

Posted by agrobisnisindonesia |

Ikan bawal tawar merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan jenis ini termasuk yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Selain relatif tidak terlalu rumit budidayanya, ikan bawal tawar termasuk ikan yang tahan banting.
Usaha pembesaran ikan bawal tawar
dilakukan dengan tujuan utama untuk memperoleh ikan konsumsi dengan ukuran yang disukai oleh para penikmat ikan.

Pembesaran ikan bawal air tawar
dapat dilakukan dengan sistem monokultur maupun polikultur.

A. PERSYARATAN LOKASI

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah lokasi sebelum digunakan untuk membudidayakan ikan bawal tawar adalah :
  1. Tanah bertekstur liat lempung, tidak porous, subur serta mempunyai sudut kemiringan sebesar 3 – 5 %.
  2. Lokasi pemeliharaan berada di pada ketinggian 50 – 400 m dpl.
  3. Kualitas air harus baik, dalam artian bebas dari pencemaran bahan – bahan kimia, minyak maupun limbah pabrik. Memiliki kadar pH 7 – 8 dan bersuhu 20 – 280 C.
  4. Dasar kolam berlumpur, tidak terlalu keruh.
  5. Kedalaman kolam berkisar diantara 80 – 100 cm.
  6. Sumber air mempunyai debit 3 liter / detik untuk sistem pemeliharaan tradisional serta 6 – 12 liter / detik untuk sistem pemeliharaan polikultur.
B. TEKNIK BUDIDAYA

Persiapan Kolam
  1. Pengeringan tanah dasar kolam.
  2. Pengapuran tanah dasar kolam dengan menggunakan kapur tohor atau dolomit, dengan dosis 25 kg / 100 m2.
  3. Pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang dengan dosis 25 – 50 kg / 100 m2 dan TSP dengan dosis 3 kg / 100 m2.
  4. Kolam diisi dengan air setinggi 3 cm lalu didiamkan selama 3 hari.
  5. Proses penambahan air dilakukan sedikit demi sedkit hingga pada akhirnya ketinggian air kolam maksimal adalah 80 – 120 cm.
Pemilihan dan Penebaran Benih
  1. Penebaran benih dilakukan 7 – 10 hari setelah pemupukan.
  2. Benih yang akan ditebar harus sudah melalui proses aklimatisasi. Caranya :
    Masukkan benih ikan yang masih berada di dalam kantong plastik ke dalam air kolam. Setelah dinding plastik berembun, buka kantong plastik benih ikan tersebut, lalu masukkan air kolam sedikit demi sedikit hingga benih terlihat sudah dapat beraktifitas normal. Benih ikan siap ditebar.
Pakan dan Cara Memberikan Pakan

Sumber pakan yang dapat digunakan adalah dedaunan dan atau pelet ikan. Pakan dapat diberikan dengan dosis 3 – 5 % dari total berat ikan, dengan cara disebar merata.
Pemanenan

Pemanenan dapat dilakukan setelah masa pemeliharaan sudah mencapai 4 – 6 bulan, dimana dalam usia tersebut, berat ikan bawal tawar sudah mencapai kurang lebih 500 gram / ekor. Alat yang biasa digunakan dalam operasional panen ini adalah jaring yang terbuat dari waring berdiameter lebar.

C. NILAI EKONOMI

Ikan bawal tawar banyak diminati sebagai ikan konsumsi dan ikan budidaya dikarenakan memiliki berbagai macam kelebihan, diantaranya adalah cita rasa dagingnya yang menyerupai gurami serta mempunyai daya tahan tinggi terhadap kondisi lingkungan hidup yang kurang baik.
Sumber berita:http://www.infoagrobisnis.com/2009/10/teknik-budidaya-ikan-bawal-tawar.html

Tuesday, June 21, 2011

Budidaya Ikan Arwana

Posted by agrobisnisindonesia |

Ikan Arwana Merah, yang harganya bisa mencapai belasan juta rupiah
Arwana termasuk famili ikan “karuhun”, yaitu Osteoglasidae atau famili ikan “bony-tongue” (lidah bertulang), karena bagian dasar mulutnya berupa tulang yang berfungsi sebagai gigi. Arwana memiki berbagai julukan, seperti: Ikan Naga (Dragon Fish), Barramundi, Saratoga, PlaTapad, Kelesa, Siluk, Kayangan, Peyang, Tangkelese, Aruwana, atau Arowana, tergantung dari tempatnya.
Bentuk dan penampilan arwana termasuk cantik dan unik. Tubuhnya memanjang, ramping, dan “stream line”, dengan gerakan renang sangat anggun. Arwana di alam mempunyai variasi warna seperti hijau, perak, atau merah. Pada bibir bawahnya terdapat dua buah sungut yang berfungsi sebagai sensor getar untuk mengetahui posisi mangsa di permukaan air. Sungut ini termasuk dalam kriteria penilaian keindahan ikan.
Potensi pertumbuhan arwana cukup besar, terutama dengan pemberian pakan berkadar protein tinggi.
Pertumbuhan arwana di akuarium mencapai 60 cm, sedangkan di alam mencapai lebih dari 90 cm. Jenis arwana asal Amerika Selatan dapat tumbuh hingga 270 cm.
Arwana merupakan ikan perenang atas (surface feeder), ditunjukkan oleh betuk mulut. Di alam mereka berenang di dekat permukaan untuk berburu mangsa. Arwana dapat menerima segala jenis pakan untuk ikan karnivora, tetapi seringkali mereka jadi sangat menyukai salah satu jenis pakan saja, dan menolak jenis lainnya. Sebagai ikan peloncat, arwana di alam bisa menangkap serangga yang hinggap di ranting ketinggian 1-2 meter dari permukaan air. Maka pemeliharaan dalam akuarium harus ditutup dengan baik.
Arwana merupakan ikan tangguh yang dapat hidup hingga setengah abad. Permintaan yang tinggi dengan ketersediaan alam yang terbatas menyebabkan eksploitasi di alam dibatasi. CITES (Convention of International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) menetapkan bahwa ikan Arwana Asia sebagai ikan yang mendapat perlindungan tertinggi. Berbagai jenis Arwana Asia antara lain:
1. Merah
Arwana merah berasal dari berbagai tempat di Propinsi Kalimantan Barat, seperti dari Sungai Kapuas dan Danau Sentarum yang dikenal sebagai habitat dari Super Red (Chili dan Blood Red). Perairan ini merupakan wilayah hutan gambut yang menciptakan lingkungan primitif bagi ikan purba tersebut. Akan tetapi kondisi mineral, lingkungan air gambut (black water), dan banyaknya cadangan pangan yang memadai telah mengkondisikan pengaruh yang baik terhadap evolusi warna pada ikan yang bersangkutan. Pengaruh geografis itu juga menyebabkan terciptanya variasi yang berbeda terhadap morfologi ikan ini, seperti badan yang lebih lebar, kepala berbentuk sendok, warnah merah yang lebih intensif, dan warna dasaryang lebih pekat.
Warna merah penuh tampak pada sirip ikan muda, pada bibir dan juga sungut. Menjelang dewasa, warna merah akan muncul di berbagai bagian tubuh lainnya, terutama pada tutup insang dan pinggiran sisik, sehingga tubuh ikan terlihat berwarna merah.
Arwana merah dikelompokkan dalam 4 varietas, yaitu Merah Darah (Blood Red), Merah Cabai (Chili Red), Merah Orange (Orange Red), dan Merah Emas (Golden Red). Keempat varietas ini secara umum diberi julukan Super Red atau Merah Grade Pertama (First Grade Red), meskipun dalam perkembangannya super red lebih merujuk pada Merah Cabai dan Merah Darah. Sedangkan dua varietas terakhir lebih sering di anggap sebagai super red dengan grade lebih rendah.
Perbedaan antara varitas merah cabai dan merah darah dijabarkan pada tabel berikut :


Arwana Merah Cabai
Arwana Merah Darah
Tampilan Warna Seperti merah cabai Seperti merah darah
Bentuk fisik Bentuk tubuh lebih lebar, kepala berbentuk sendok lebih panjang dan lebih ramping
Lebar tubuh relatif tetap hingga menjelang pangkal ekor, bingkai sisik yang lebih tebal menyempit secara gradual
Warna mala Mata merah dan lebar sehingga pinggiran matanya seakan menyentuh bagian atas kepala dan bagian rahang bawahnya mata lebih putih dan lebih kecil
Bentuk ekor Seperti intan (diamond) Seperti kipas
Warna pada usia muda cenderung memiliki warna dasar hijau dengan kilap metalik yang pekat memiliki kilap lebih lemah dan cenderung mirip dengan RTG muda; Bentuk tubuh lebih bulat
Pertumbuhan Lebih lambat Lebih cepat
Ciri morfologi fisik kedua jenis tersebut sudah nampak saat masih muda sehingga dapat dijadikan pedoman dalam membedakan kedua varitas tersebut.
Perkembangan warna antara Merah Cabai dan Merah Darah diketahui juga berbeda. Perbedaan waktu dalam pencapaian warna merah penuh adalah 1-2 tahun. Namun kedua varitas melalui tahapan perkembangan warna yang relatif sama yaitu melalui transisi warna orange. Beberapa arwana merah mempunyai warna pucat hingga sampai 8 tahun, baru kemudian berubah ke merah penuh dalam waktu 1 bulan. Menduga potensi arwana merah memerlukan kesabaran dan usaha yang diperoleh dari pengalaman dan kesabaran.
Varietas Merah Orange (Orange Red) merupakan salah satu varietas yang umum dijumpai. Pada saat dewasa sisik tubuhnya menunjukkan warna orange. Dibandingkan dengan Chilli Red dan Blood Red, sirip dan ekor varietas ini tidak semerah keduanya.
Merah Emas (Golden red) merupakan varietas warna lain yang umum dijumpai disamping merah orange (Orange Red). Varietas ini merupakan varietas dengan grade paling rendah. Setelah dewasa warna badannya hanyalah emas kekuningan. Warna bibir dan sirip tidak semerah Super Red, tetapi berwarna merah muda atau merah jambu.
2. Golden (Cross Back, Cross Back Golden,CBG)
Golden varietas cross back merupakan bagian dari varietas arwana golden. Varietas ini dijumpai di berbagai tempat di Malaysia, seperti Perak, Trengganu, Danau Bukit Merah dan Johor. Oleh karena itu, mereka sering diberikan julukan sesuai dengan tempat asalnya, seperti Golden Pahang, Bukit Merah Blue atau Malaysian Gold. Disebut sebagai cross back, karena varietas ini saat dewasa memiliki warna emas penuh hingga melewati punggungnya. Varietas ini harganya relatif lebih mahal bahkan paling tinggi dibandingkan lainnya karena termasuk jarang ditemui.
CBG dibagi menjadi beberapa kelas berdasarkan warna dasar sisik, yaitu Purple-Based (warna dasar ungu), Blue-Based (warna dasar biru), Gold Based (warna dasar emas), dan Silver-Based (warna dasar perak). Arwana Gold dengan warna dasar emas diketahui dapat mencapai warna penuh pada usia lebih muda dibandingkan dengan varietas lain.
3. Golden (Ekor Merah, Red Tail Golden, RTG).
Merupakan verietas dari arwana golden dan sering disebut sebagai Arwana Golden Indonesia (Indonesian Golden Arwana). Varietas ini dijumpai di daerah Pekan Baru, Sumatera. Berbeda dengan Cross Back Golden (CBG), warna emas pada verietas ini tidak akan berkembang hingga melewati punggung namun hanya akan mencapai baris ke empat sisik (baris sisik dihitung dari bawah, perut), atau lebih baik bisa mencapai baris ke lima. Seperti halnya verietas cross back, warna dasar sisik RTG bisa biru, hijau, atau emas. Begitu pula dengan warna bibir, ekor, dan sirip, kedua varietas ini memiliki keragaan yang sangat mirip. RTG muda memiliki warna lebih kusam dibandingkan dengan varietas cross back muda.
RTG boleh dikatakan lebih tahan banting dibandingkan dengan CBG dapat tumbuh lebih besar, dan juga lebih agresif. Jumlahnya di alam relatif lebih banyak dibandingkan dengan CBG, meskipun demikian tetap merupakan varietas yang dilindungi CITES.
CBG sekilas mirip dengan ikan arowana golden red yang berasal dari negara kita. Perbedaan yang sangat mencolok dapat dilihat jika ukuran ikan sudah agak besar dengan ukuran 20 cm lebih. Pada CBG warna emas menutupi seluruh tubuh sampai ke bagian punggung ikan ditutupi oleh ring yang berwarna keemasan. Sedangkan pada golden red (RTG) punggung nya tidak. berwarna keemasan tapi tetap hitam (kelabu).
Membedakan CBG dan RTG pada ukuran kecil (10-12 cm) sulit dilakukan dan perlu kehati-hatian. Perbedaan harga juga sangat mencolok. Harga CBG ukuran 12 cm dihargai lebih dari 10 juta, ukuran 20-25 cm berkisar 15-25 juta. Golden red berukuran 12 cm dihargai 2 juta, sedangkan ukuran 20-25 cm dihargai 2.5-3.5 juta.
4. Arwana Hijau
Arwana hijau ditemukan di Thailand, Malaysia, Myanmar, Komboja, dan juga di beberapa tempat di Indonesia. Variasi penampakandan warna bisa saja ditemukan di masing-masing daerah. Meskipun demikian secara umum dapat dikatakan bahwa pada umumnya berwarna kelabu kehijauan dangan pola garis-garis berwarna gelap pada ekor. Kepala dan mulutnya lebih besar dan lebih membulat dibandingkan dengan jenis arwana asia lainnya.
5. Banjar Merah
Banjar Merah boleh dikatakan merupakan varietas arwana merah kelas 2 dan diketahui bukan merupakan strain murni arwana merah. Penampakannya ditunjukkan oleh warna sirip yang orange pucat, ekor berwarna orange atau kuning, dan tidak memiliki warna merah di badan maupun di pipi. Sepintas Banjar Merah muda sangat mirip dengan Arwana Merah muda, sehingga tidak jarang hal ini dapat mengecoh para hobiis baru. Banjar dicirikan juga oleh bentuk kepala yang cenderung membulat dengan mulut yang tidak terlalu lancip. Perbedaan lain dapat dilihat pada tabel berikut :

Banjar Merah
Arwana Merah Muda
Warna sirip warna sirip yang lebih muda atau cenderung orange-merah pucat. merah pekat merata pada seluruh permukaan
Warna sisik Kuning atau kehijauan Mengkilap
Bingkai sirip dan tutup insang Pink tua atau seperti karat, setelah dewasa menjadi jingga atau merah Tidak ada tampilan seperti pada Banjar
Apabila ragu dalam memilih arwana, bawalah seorang yang telah berpengalaman memelihara arwana atau belilah arwana yang telah disertifikasi dan memiliki sertifikat yang sah.
6. RED SPOTTED PEARL VS JARDINI
Arowana irian (jardini) ada 2 macam. Yang umum ditemui berwarna dasar hijau dan bermutiara merah. Jenis jardini lain berwarna dasar hitam dan bermutiara emas serta lebih sulit ditemui.
Di Australia ditemukan pula jardini tipe 1 (warna dasar hijau, mutiara merah) yang disebut red spotted pearl (Scleropages leichardty). Cross back dan golden red; red spotted pearl dan jardini adalah kerabat, dengan perbedaan lingkungan yang mempengaruhi performa.
Perbedaan yang sangat mencolok adalah pada red spotted pearl, mutiara merah bertaburan secara mencolok pada tubuhnya. Sedangkan pada arowana jardini di mutiara di badannya tidak semencolok arowana red spotted pearl dari australia. Harga jardini (mutiara merah,warna dasar hijau) 12-15 cm dijual dengan kisaran harga 60-80 ribu rupiah, sedangkan arowana red spotted pearl karena langka di Indonesia dihargai 1.3-1.5 juta rupiah.
Arwana tahan terhadap serangan berbagai penyakit. Tetapi sensitif terhadap perubahan kualitas air, terutama terhadap peningkatan kadar amonia, nitrit dan nitrat.
Parameter Air.
pH. Arwana dapat hidup pada selang pH cukup lebar. Namun disarankan agar mereka dipelihara sesuai dengan kondisi aslinya di alam yaitu pada selang pH netral sampai agak masam (pH 6.0 -7.0).
Kesadahan. Arwana berasal dari perairan dengan kesadahan rendah, oleh karena itu direkomendasikan untuk memeliharanya pada selang kesadahan ini (GH 8°). Arwana silver dapat hidup pada kisaran GH 4-10.
Temperatur. Arwana direkomendasikan untuk diperlihara pada selang suhu 26 – 30 °C. Seperti halnya jenis ikan yang lain, hindari terjadinya perubahan suhu mendadak. Perubahan suhu mendadak dapat menyebabkan shock pada ikan yang bersangkutan, dan dapat memicu berbagai masalah. Suhu terlalu tinggi untuk jangka waktu lama diketahui dapat menyebabkan tutup insang menggulung, hal ini tentu akan sangat menggangggu keindahan ikan tersebut.
Pencahayaan. Sebaiknya di area terang tanpa sinar matahari secara langsung.
Arwana bukan termasuk ikan yang sulit dipelihara, hanya perlu beberapa saat setiap hari atau beberapa jam setiap minggu untuk merawat dan mencek kondisi ikan dan lingkungannya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memelihara arwana :
Wadah

1. Kolam

Pemeliharaan induk arwana sebaiknya dilakukan di kolam. tanah. Lokasi untuk kolam perlu mempetimbangkan :

  • Tanah
    Jenis Tanah yang baik adalah tanah Nat berlempung yang dapat menahan air dan mendukung pertumbuhan pakan alami.


  • Topografi
    Perbedaan derajat kemiringan antara saluran pemasukan dan pengeluaran maksimal 1%.


  • Air
    Suplai air yang memenuhi kualitas, kuantitas dan kontinuitas yang dibutuhkan.

  • Kolam yang ideal berbentuk persegi panjang dengan ukuran minimal 10x10m2. Persiapan kolam sebelum tanam yaitu :
  • Pengeringan kolam hingga dasar retak-retak


  • Pembalikan dasar kolam, perbaikan pematang


  • Pengapuran dengan dosis 50-100 gram/m2


  • Perngisian air setinggi 100 cm

  • Hujan deras dapat mengakibatkan perubahan mendadak kualitas air. Untuk mencegah kematian ikan, ganti air (setelah hujan berhenti) minimal 30% dari total volume air.
    2. Akuarium
    Sebagai ikan hias, arwana dapat dipelihara dalam akuarium. Secara umum, semakin besar ukuran akuarium akan semakin baik, karena arwana memerlukan ruang gerak yang cukup luas. Ukuran akuarium minimal 3 kali dari panjang ikan dengan lebar 1. 5 kali panjang ikan. Akuarium ditempatkan di area yang jauh dari gangguan, untuk menghindari stress pada ikan. Tutup akuarium dengan tutup yang rapat dan kuat karena arwana dapat melompat atau mendorong tutup ke luar akuarium.
    Setelah arwana berumur 4 bulan, pemeliharaan mulai dilakukan secara terpisah pada akuarium ukuran 75 x 45 x 45 cm untuk menghindari perkelahian antar ikan. Pemeliharaan 2-3 ekor arwana dalam satu akuarium perlu dihindari, mengingat sifat agresif akan menyebabkan perkelahian. Namun diperbolehkan pemeliharaan 6 ekor sekaligus, karena sifat agresif arwana menjadi sangat berkurang.
    Untuk merangsang keluarnya warna yang bagus dan pembentukan kromatofora, perlu diberikan pencahayaan buatan minimal 10-12 jam per hari. Hindari penyalaan lampu secara mendadak, yang bisa menyebabkan panik, sehingga ikan menabrak kaca atau benda lainnya dalam akuarium dan ikan menjadi terluka. Manipulasi pencahayaan sering dapat menimbulkan pantulan warna ikan dengan lebih baik. Letakkan lampu di bagian depan akuarium, dan set sudut reflektor sedemikan rupa sehingga bisa memberikan pantulan yang optimal. Banyak pilihan lampu dijual dipasaran dengan spektrum bervariasi, lampu berspektrum penuh akan secara alamiah memantulkan wama-warna alami dari ikan.
    Pada waktu 6-7 bulan setelah ikan dapat berenang bebas, ukuran mencapai 20-25 cm dan dapat dipasarkan.
    Perawatan Akuariurn
    Sebagai karnivora, arwana akan memproduksi kotoran dalam jumlah relatif banyak dengan kandungan unsur nitrogen tinggi. Oleh karena itu, kadar amonia, nitrit, dan nitrat dalam akuarium arwana sering kali menjadi masalah.
    Penggantian air dilakukan untuk memperbaiki kualitas air yang telah menurun akibat banyaknya kotoran ikan. Oleh karena itu dalam penggantian air yang menggunakan sistem siphon (menggunakan selang air) sekaligus untuk mengeluarkan sisa-sisa kotoran ikan dan juga kotoran yang melekat pada kaca. Penggantian air cukup dilakukan 2 atau 4 minggu sekali dan tidak perlu seluruh air diganti tetapi cukup sejumlah 30-50 % dari total air. Perlu diperhatikan bahwa suhu dan pH air pengganti harus relatif sama dengan air akuarium. Hindari terjadinya fluktuasi kualitas air saat melakukan penggantian air.
    Bersamaan dengan penggantian air dilakukan juga pembersihan media filter mekanik yang digunakan.
    Pakan hidup merupakan jenis pakan utama bagi arwana yang termasuk karnivora. Pakan yang diberikan hendaknya bervariasi untuk menekan resiko kekurangan gizi tertentu.
    Beberapa jenis pakan yang sering diberikan pada arwana adalah ikan hidup, udang hidup, potongan udang segar, potongan daging ikan segar, serangga (jangkrik, kecoa, kelabang), cacing/ulat (cacing sutera, cacing tanah, cacing darah, ulat hongkong) dan kodok.
    Penggunaan pakan hidup perlu didahului dengan tindakan karantina yang memadai untuk menghindari masuknya bibit penyakit. Terutama pakan hidup yang berasal atau hidup dalam air, seperti udang, ikan, atau kodok. Hindari memberikan serangga atau kodok mati, kecuali anda yakin betul tidak berasal dari area tercemar insektisida.
    Sebelum memberikan pakan hidup, bagian-bagian tubuh pakan yang diperkirakan dapat melukai mulut ikan dibuang terlebih dahulu. Seperti kaki belakang kecoa dan jangkrik, atau rostrum (duri pada kepala) udang. Dapat juga pakan hidup tersebut dilemahkan sebelum diberikan pada ikan, agar tidak terjadi “kejar-mengejar” berlebihan dalam ruang akuarium yang sempit. Arwana yang mengalami kelebihan pakan dalam jangka lama, akan kehilangan nafsu makan selama beberapa hari bahkan beberapa minggu.
    Pak
    an buatan merupakan hasil ramuan dengan komposisi yang mencukupi kebutuhan gizi bagi pertumbuhan arwana dengan cara melatih dan membiasakan agar arwana mau memakannya.
    Teknik Pemisahan Skala Kecil di Kolam Semen
    1. Pemeliharaan Induk
    Induk dipelihara dalam kolam berukuran 5 x 5 m dengan kedalaman air 0,5-0,75 m. Kolam ditutup plastik setinggi 0,75 m untuk mencegah lompatan ikan.
    Ruangan pemijahan dibangun di pojok perkolaman dan ditambah dengan beberapa kayu gelondongan untuk memberikan kesan alami. Batu dan kerikil dihindari karena dapat melukai ikan atau dapat tercampur pakan secara tidak sengaja.
    Kolam pembesaran dibangun di area tenang dan ditutup sebagian, dan dijauhkan dari sinar matahari langsung. Induk dipelihara dalam kolam pembesaran hingga mencapai matang gonad.
    Pengelolaan Kualitas Air
    Kualitas air dijaga agar mendekati lingkungan alami arwana yaitu pH 6,8-7,5 dan suhu 27-29 C. Penggantian air dilakukan sebanyak 30-34% dari total volume dengan air deklorinisasi.
    Pemberian Pakan
    Keseimbangan gizi sangat penting bagi kematangan gonad dan pemijahan. Induk diberikan pakan bervariasi yang mengandung kadar protein tinggi. Pakan diberikan setiap hari dalam bentuk ikan/udang hidup atau runcah, dan ditambah pelet dengan kadar protein 32 %. Jumlah pemberian pakan per hari adalah 2 % dari bobot total tubuh.
    Kematangan gonad
    Matang gonad terjadi pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh 45-60cm.
    Pemijahan terjadi sepanjang tahun, dan mencapai puncaknya antara bulan Juli dan Desember. Induk jantan di alam akan menjaga telur yang sudah dibuahi dalam mulutnya hingga 2 bulan ketika larva mulai dapat berenang.
    Arwana betina mempunyai ovarium tunggal yang mengandung 20-30 ova besar dengan diameter rata-rata 1,9 cm dengan kematangan berbeda-beda. Induk jantan dewasa juga mempunyai sebuah organ vital menyerupai testis.
    Pembedaan Kelamin
    Juvenil sulit dibedakan jenis kelaminnya. Perbedaan akan muncul setelah ikan berukur 3-4 tahun.
    Pembedaan jenis kelamin diketahui melalui bentuk tubuh dan lebar mulut. Arwana jantan mempunyai tubuh lebih langsing dan sempit, mulut lebih besar dan warna lebih mencolok daripada betina. Mulut yang melebar dengan rongga besar digunakan untuk tujuan inkubasi telur. Perbedaan lain adalah ukuran kepala jantan relatif lebih besar, sifat lebih agresif termasuk dalam perebutan makanan.
    Kebiasaan Pemijahan
    Tingkah laku arwana sangat unik selama masa pengenalan lain jenis. Masa ini berlangsung selama beberapa minggu atau bulan sebelum mereka mulai menjadi pasangan. Hal ini dapat diamati pada waktu malam, ketika ikan berenang mendekati permukaan air. Arwana jantan mengejar betina sekeliling kolam, terkadang pasangan membentuk lingkaran (hidung menghadap ke ekor pasangan).
    Sekitar 1-2 minggu sebelum pemijahan, ikan berenang bersisian dengan tubuh seling menempel. Terjadilah pelepasan sejumlah telur berwarna jingga kemerahan, Jantan membuahi telur dan kemudian mengumpulkan telurdi mulitnya untuk diinkubasi sampai larva dapat berenang dan bertahan sendiri. Diameter telur 8-10 mm dan kaya akan kuning telur dan menetas sekitar seminggu setelah pembuahan. Setelah penetasan, larva muda hidup dalam mulut jantan hingga 7-8 minggu sampai kuning telur diserap total. Larva lepas dari mulut dan menjadi mandiri setelah ukuran tubuh 45-50 mm.
    2. Panen Larva
    Inkubasi telur secara normal adalah membutuhkan 8 minggu. Untuk memperpendek waktu, telur yang sudah dibuahi dapat dikeluarkan dari mulut pejantan 1 bulan setelah pemijahan. Induk jantan ditangkap dengan sangat hati-hati dengan jaring halus lalu diselimuti dengan handuk katun yang basah untuk menghindari ikan memberontak dan terluka.
    Untuk melepaskan larva dari mulut induk jantan, tarik perlahan bagian bawah mulut dan tubuh ditekan ringan. Larva dikumpulkan dalam wadah plastik dan diinkubasikan dalam akuarium. Jumlah larva yang dapat mencapai 25-30 ekor.
    Teknik Pembenihan
    Setelah dikeluarkan dari mulut pejantan, larva diinkubasikan dalam akuarium berukuran 45x45x90 cm. Temperatur air 27-29 °C menggunakan pemanas thermostat. Oksigen terlarut 5 ppm (mg/ I) menggunakan aerator bukaan kecil.
    Untuk mencegah infeksi akibat penanganan larva, dalam air dilarutkan Acriflavine 2 ppm. Menggunakan teknik pembenihan in vitro ini, Survival Rate (SR) yang didapat sampai tahap ikan dapat berenang adalah 90-100 %.
    Selama periode inkubasi, larva tidak perlu diberikan pakan. Beberapa minggu pertama selama kuning telur belum habis, biasanya larva hampir selalu berada pada dasar akuarium. Larva mulai berenang ke atas bertahap ketika ukuran kuning telur mengecil. Pada minggu ke delapan, kuning telur hampir terserap habis sehingga larva mulai berenang ke arah horizontal. Pada tahap ini, pakan hidup pertama harus mulai diberikan untuk mencegah larva saling Ketika ukuran larva mencapai 8,5 cm atau berumur 7 minggu, kuning telur terserap secara penuh dan larva dapat berenang bebas.
    Pemeliharaan Larva
    Tambahan pakan hidup yang dapat diberikan seperti cacing darah atau anak ikan yang ukurannya sesuai bukaan mulut arwana.
    Larva yang telah mencapai panjang 10-12 cm dapat diberikan pakan seperti udang air tawar kecil atau runcah untuk mengimbangi kecepatan tumbuhnya.
    Teknik Transportasi
    Arwana bila gelisah gampang sekali melakukan “jumping” atau menabrak-nabrak. Bila satu saja sisiknya terlepas akan terlihat kurang indah. Juga bisa mengakibatkan sirip robek dan patah.
    Tubuh yang rusak bisa mengalami regenerasi, namun mungkin pula menjadi cacatdan mengurangi keindahan penampilan, apalagi ada hal-hal yg bisa memperparah luka-lukanya (misalnya infeksi, pertumbuhan bekas luka yg lambat/delay). Untuk itu arwana perlu dilumpuhkan agar tidak dapat berontak dalam proses pemindahan antar akuarium maupun transportasi jarak jauh. Dosis pembiusan diatur sedemikian rupa bergantung keperluan. Untuk transportasi jarak jauh, arwana dilumpuhkan gara tidak dapat berontak namun tidak sampai terbalik dan masih bisa berenang. Pemindahan antar arwana akuarium menggunakan dosis ringan, yang penting arwana tidak dapat berontak.
    1. Persiapan Pre-anestesi :

  • Puasakan arwana selama 1-2 hari.


  • Lama puasa bergantung ukuran tubuh, jenis dan kebiasaan arwana buang kotoran (lancar atau tidak). Semakin besar ukuran arwana maka semakin lama waktu puasa, untuk menghindari arwana muntah atau mengeluarkan kotoran.Untuk arwana berukuran kecil (


  • Siapkan air tampungan yang sudah teraerasi minimal 24 jam.


  • Kondisi arwana tidak mengalami gangguan pernapasan, tidak ditemukan kelainan pada tutup insang.


  • Alat dan bahan :
    • Plastik dengan lebar sepanjang badan arwana.
    • Wadah bak untuk tempat kantong plastik yang berisi arwana
    • Air segar, air yang telah diaerasi yg mencukupi minimal 24 jam. Hindari bahan-bahan kimia lain yang terlarut.
    • Bahan : Aquadine” cair
    Prosedur Pelaksanaan :
  • Tangkap arwana dalam akuarium dengan tenang kantong plastik.


  • Masukkan cairan bius dalam plastik kira-kira 1 cc/lt.


  • Bila sudah terlihat tidak bisa melompat, angkat kantong plastik.


  • Perhatikan apakah perlu ditambahkan lagi cairan bius untuk
    menurunkan kesadaran sampai arwana menjadi terbalik, tunggu reaksi bius beberapa menit.


  • Jaga arwana selalu tenggelam dalam air, untuk menghindari kembung.


  • Bila sudah tidak berontak, perhatikan gerakan tutup insang harus terlihat bergerak. (Dalam waktu kurang dari 5 menit, arwana mulai gelisah dan kehilangan keseimbangan dan tidak banyak bergerak. Karena bagian tubuhnya yg berat ada di bagian atas, maka arwana mulai terbalik. Badannya mulai kaku/ kejang. Perhatikan gerakannya, terutama gerakan insang yg menunjukkan masih adanya usaha untuk bernapas.
     
    Sumber Berita: http://budidayaagribisnis.wordpress.com/2010/08/17/budidaya-ikan-arwana

  • Budidaya ikan mas di kolam air kembali jadi alternatif setelah daya dukung lingkungan waduk untuk budidaya di keramba jaring apung menurun

    Posted by agrobisnisindonesia |

    Nendi Mulyadi tak bisa sebangga dulu lagi ketika menceritakan usaha budidaya ikan masnya di Kolam Air Deras (KAD). Lelaki asal Subang itu menyebutkan, sistem budidaya tersebut memang pernah mengalami masa keemasanpada1995. Tetapi makin kesini, konsep budidaya yang mulai populer di Indonesi sejak 1980 itu kian ditinggalkan. Apalagi sejak munculnya virus KHV (Koi Herpes Virus) di 2002 yang membuat banyak pembudidaya gulung tikar.

    Di  Jawa Barat (Jabar)—yang paling banyak menerapkan konsep KAD—saat  ini pun mengalami penurunan produksi ikan mas dari sistem budidaya yang juga dikenal sebagai running water system itu. Fakta ini ditandai dengan berkurangnya jumlah pembudidaya ikan mas yang menerapkan teknologi dari Jepang tersebut di beberapa sentrabudidaya ikan mas Jabarseperti Majalaya, Bandung, Sumedang,dan sekitarnya.
    Data Dinas Perikanan Provinsi Jabar menyebutkan, sampai 2009,jumlah pembudidayaikan mas di KAD wilayah Jabarmengalami kenaikan hingga 15,26 %. Yaitu pada 2008 sebanyak 2.963 orang menjadi 4.257 orang di 2009. Tapi di 2010angka tersebut malah turun jadi 1.153 orang.
    Tak sedikit para pembudidaya ikan mas di KAD yang beralih ke sistem KJA (Keramba Jaring Apung) karena dianggap lebih efisien. Padahal menurut Kepala Dinas Perikanan Jabar,Ahmad Hadadi, ikan mas produksi KAD memiliki segmentasi pasar dan keunggulan tersendiri. “Dari sisi rasa lebih enak dan tampilan juga lebih disukai konsumen,”ujarnya.
    Sementara dari segi kualitas, Dosen Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor, Enang Harris Surawidjajamenyatakanikan mas hasilbudidaya kolam air deras lebih bagusdibandingkan ikan mas dari KJAdan tidak berbau lumpur. Terlebih harga jualnya juga lebih tinggi Rp 5 ribu dibanding ikan mas KJA.
    Nendi atau lebih akrab dipanggil Asepmenyebutkan, harga per kgikan mas KAD sekarang ini Rp 18.500 untuk ukuran 1–2ekor/kg. Ikan yang dijualAsep tersebut berukuran lebih besar karena sasaran pasarnyabukan untuk pasar becek, melainkan untuk restoran, rumah makanatau pemancingan sehingga harganya jauh lebih tinggi.
    “Selain itujuga karena nilai FCRnya (Feed Convertion Ratio/ efisiensi pakan) tinggi sehingga memaksa pembudidayaKAD memelihara ikannya dengan ukuran besar, agar biaya operasional bisaditutup,” jelasnya.Dengan fakta seperti ini, apakah budidaya ikan mas KAD masih dianggap tidak menguntungkan? Simak baik-baik pemaparan para ahli berikut ini.

    Sumber Berita:http://www.trobos.com/show_article.php?rid=12&aid=2906
     

    Meski berkembang pesat, ikan bawal air tawar belum menjadi komoditas budidaya unggulan

    Posted by agrobisnisindonesia |

    Jalan itu hanya setapak dan cukup licin ditimpa gerimis. Tapi Nur Cholis tak surut langkah demi melihat panen ikan bawal tawar hasil budidaya kelompoknya. Pria yang akrab disapa Aki ini adalah pembudidaya  dan pedagang ikan bawal tawar KJA (Keramba Jaring Apung) di Waduk Cirata Cianjur Jawa Barat. “Panen seperti ini saya lakukan setiap hari, dengan kuantitas ikan bawal yang dipanen sebesar 7 - 8 ton,” akunya.
    Hasil panen tersebut  selanjutnya dipasarkan ke Jakarta, Cikampek, dan sekitar Bandung. Bahkan, dulu pernah ikan dijual sampai ke luar Pulau Jawa, seperti Palembang dan Lampung. Harga jual saat ini Rp 10.000 per kg dengan jumlah ikan bervariasi, tergantung permintaan. ”Satu kg berjumlah  4 sampai 7 ekor,” cetusnya.
    Ikan bawal tawar yang dijual setiap hari itu bukan semata hasil budidaya Aki, melainkan hasil dari seluruh anggota kelompok yang berjumlah 70 orang. Khusus untuk Aki baru bisa panen seminggu sekali. Yaitu dari 10 unit KJA (1 unit terdiri atas 4 petak) miliknya sendiri, dengan kapasitas 20.000 ekor per unitnya. ”Total kolam yang saya punya 21 unit, sisanya untuk  ikan gurami dan nila,” sebutnya.
    Begitulah, sekelumit gambaran budidaya bawal air tawar kian berkembang di Cirata. Di waduk ini, budidaya ikan yang awalnya didatangkan sebagai ikan hias tersebut mulai marak pada 2005. Saat itu terjadi serangan virus yang membuat banyak ikan mas mati. Karena alasan ini maka tak sedikit pembudidaya ikan mas yang beralih membudidayakan ikan bawal. Dan kini terbukti pilihan tersebut tak salah karena prospek ikan bawal yang besar.
    Aki mencontohkan permintaan pasar yang ia termina minimal 7 – 10  ton per hari. ”Itu hanya untuk seorang bandar saja,” ucap ayah 2 anak ini bangga. Jika di Cirata saat ini ada 10 bandar ikan yang menjual bawal setiap harinya maka total serapan pasar di sana  mencapai  kurang lebih 70 ton per hari!
    Fenomena kian bergairahnya budidaya bawal air tawar ini juga tak luput dari pengamatan pakar genetika ikan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Prof Komar Sumantadinata. Kepada TROBOS Komar  menyebutkan, perkembangan budidaya ikan bernama latin Colossoma macropomum Cuvier ini sangat cepat.
    Indikasinya, menurut Komar, banyak orang terjun pada pembenihannya. Juga banyak bermunculan pembudidaya mulai dari kolam sampai KJA. Di daerah asal ikan bawal yaitu Amerika Selatan, sekarang sudah menjadi ikan budidaya. Tren budidaya bawal ini juga terjadi di China. “Indikasi lainnya kian banyak menu ikan bawal tawar ditemui di rumah-rumah makan,” ungkap Komar.
    Kondisi tersebut diamini Icep Dadan Kardian yang merupakan pembudidaya bawal di Cirata. Menurutnya, perkembangan budidaya ikan yang bentuknya mirip ikan piranha ini dari hari ke hari semakin besar.  Juga banyak lahir pelaku budidaya baru setiap harinya. Hal  ini menurut Icep disebabkan antara lain waktu pemeliharaan ikan bawal yang relatif singkat hanya sekitar 2 bulan. Baik dari larva menjadi ukuran  1 - 2 cm, maupun untuk pembesaran ukuran 2 - 3 cm sampai ukuran konsumsi. “Total waktu hanya 4 bulan dari larva sampai panen, “ jelasnya.
    Dari pengamatan Direktur Produksi Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Iskandar Ismanadji, perkembangan ikan bawal di tanah air layaknya diesel, lambat di awal tapi melejit kemudian. “Dibandingkan lele yang langsung menjadi populer sejak pertama kalinya di Indonesia, ikan bawal tawar justru sebaliknya, butuh waktu lama untuk dikenal masyarakat Indonesia. Namun, kepopuleran ikan bawal tawar terus menunjukkan tren peningkatan dari waktu ke waktu,” ucapnya.


    Sumber Berita:http://www.trobos.com/show_article.php?rid=12&aid=2775

    Pada saat produksi sedang tinggi ternyata pasar tak mampu menyerap

    Posted by agrobisnisindonesia |

    Telepon genggam Ade Hidayat siang itu berdering cukup sering. Kali ini, di ujung telepon, terdengar suara pria menanyakan benih patin. Tapi, “Benih patin sedang kosong karena baru dikirim ke luar Jawa,” jawab Ade sejurus kemudian.
    Beberapa  waktu terakhir ini, Ade yang pembenih ikan patin dari Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat,  mengaku cukup kewalahan memenuhi permintaan benih patin. Di Sukabumi saja misalnya, permintaan baru bisa dipenuhi sekitar 50 %. Itu pun terkadang harus membeli dari daerah lain seperti dari Parung – Bogor dan Subang. “Kita selalu berupaya mencari benih, yang penting permintaan terpenuhi dengan standar benih yang kita mau,” jelas Ade kepada TROBOS beberapa waktu lalu di lokasi pembenihan miliknya.
    Belum lagi permintaan benih patin dari luar Jawa yang baru bisa terpenuhi sekitar 30 %. Dirinya pun mengaku baru bisa memenuhi permintaan tersebut sekitar 100 ribu ekor per bulan. Menurut Ade, usaha pembenihan patin ini sangat potensial karena tidak ada istilah kelebihan produksi benih, yang ada malah kekurangan terus.
    Tapi, bisnis itu selama ini terkendala dengan cara pembenihan patin yang cukup rumit. “Membenihkan patin itu harus betul-betul ahli dan kerja ekstra dalam mengurusnya. Setiap jam harus dipantau karena jika ada perubahan suhu sedikit saja dan tidak sesuai antara 28 – 30 0C akan berpengaruh dan induk patin kondisinya akan menurun,” terang pria yang mengaku usahanya beromset sekitar 10 juta per bulan ini.
    Kondisi sebaliknya terjadi pada pembesaran patin. Ketika pembesaran patin digenjot meningkat sekitar 64 % pada pertengahan 2010 lalu, ternyata pasar di tanah air keteteran.  “Patin di pasar Sumatera, Kalimantan, dan Jawa sudah mulai tapi tidak sepesat lele sehingga patin tidak terserap. Padahal pembudidaya telah memelihara sekitar 6 bulan. Ditambah lagi margin keuntungan budidaya patin ini tipis dan karena tingginya biaya pakan yang mencapai 70 % dari biaya produksi,“ terang Direktur Produksi – Direktorat Jenderal (Ditjen) Perikanan Budidaya – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Iskandar Ismanadji secara terpisah.

    Di sisi lain, patin justru laris manis di pasar luar negeri. Simak saja data dari Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KKP, peluang pasar ekspor patin menganga lebar. Uni Eropa membutuhkan sekitar 230 ribu ton, Rusia 125 ribu ton, Ukraina 75 ribu ton, Mesir 26 ribu ton, dan Amerika Serikat 25 ribu ton per tahunnya!


    Sumber Berita:http://www.trobos.com/show_article.php?rid=12&aid=2955

    Monday, June 20, 2011

    Jangan Takut Usaha Perikanan, Pemerintah Mendukung Anda

    Posted by agrobisnisindonesia |

    Salah satu bentuk kemauan politik dari pemerintah yang ditujukan untuk memajukan sektor perikanan dan kelautan adalah dengan dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan.

    Departemen ini dibentuk secara khusus hanya untuk menangani semua permasalahan perikanan di Indonesia.

    Selain itu, berbagai macam perundang – undangan telah banayak dikeluarkan utnuk memberikan payung hukum bagi proses pembangunan sektor perikanan.

    Di dalam usaha perikanan, pelaku dan calon pelaku memang membutuhkan berbagai informasi mengenai kebijakan (aspek legal) tentang pembangunan dan pengembanagan sektor perikanan, usaha perikanan dan perizinannya, tata ruang, agraria dan lingkungan, kewenangan pemerintah, peraturan dan pungutan, penggunaan tenaga kerja, dan sebagainya.

    Kejelasan dan transparansi mengenai berbagai aturan ini akan bisa memberikan kepastian dan keamanan dalam hal berusaha bagi para pelaku dan calon pelaku dari usaha perikanan.

    Disisi lain, pemahaman yang baik tentang aspek tersebut akan dapat menuntun para pelaku dan calon pelaku dalam meniti langkah – langkah hukum pendirian maupun pelaksanaan usaha perikanan secara efektif dan efisien.

    Sumber Berita : http://www.infoagrobisnis.com/2009/11/jangan-takut-usaha-perikanan-pemerintah.html

    Cirataku Sayang, Cirataku Malang

    Posted by agrobisnisindonesia |

    Perputaran uang dari kegiatan agribisnis perikanan di Waduk Cirata mencapai Rp1,3 triliun per tahun. Namun, lingkungan perairannya kini kian memburuk.


    Cirata adalah salah satu waduk yang dibangun di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Citarum sendiri merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat, dengan luas 6.080 km2 dan panjang 269 km.
    Karena banyaknya debit air yang dialirkan oleh sungai yang bermuara di ujung Karawang itu, pemerintah membangun tiga bendungan untuk pembangkit listrik, yakni PLTA Saguling, Cirata, dan Jatiluhur.
    Waduk Cirata yang dibangun pada 1982—1987 itu berada pada ketinggian 221 m dari permukaan laut. Luasnya 6.200 hektar (ha) dengan luas tangkapan air 603.200 ha, kedalaman rata-rata 34,9 m, dan volume 2.165 x 106 m3. Wilayah genangan airnya meliputi Kabupaten Cianjur, Purwakarta, dan Bandung. Namun, wilayah genangan air terluas berada di Cianjur.
    Sejak menjadi genangan yang relatif permanen, Waduk Cirata merupakan badan air besar, dan mempunyai karakteristik ekositem perairan umum. Oleh sebab itu, Cirata memiliki berbagai potensi dibidang sosial ekonomi, seperti sumber pengairan sawah, air bersih, air minum, tempat budidaya ikan, wahana rekreasi, dan sarana perhubungan.

    Lumbung Ikan Air Tawar
    Waduk Cirata, yang mulai difungsikan pada 1988, sejatinya menyimpan potensi ekonomi yang tidak kecil. Akhir September 2006, Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, menyebutkan, usaha budidaya ikan di Cirata melibatkan tenaga kerja langsung sekitar 2.100 orang. Volume produksinya rata-rata 6.450 ton ikan per bulan, dan perputaran uang Rp1,3 triliun per tahun.
    Budidaya ikan di Cirata dilakukan dengan sitem KJA (kolam jaring apung). Menurut catatan Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC), jumlah KJA di Cirata saat ini sudah mencapai 50 ribu kolam atau 12.500 unit. “Dari jumlah KJA itu, 60%-nya, atau 30 ribu kolam, berada di wilayah Cianjur,” ungkap Drh Chaerul Anwar, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Cianjur.
    Aktivitas perikanan budidaya di Cirata, menjadikan Cianjur sebagai lumbung ikan air tawar di Jabar. Dengan 30 ribu kolam, Cianjur menyumbang 39,5% terhadap produksi perikanan KJA Jabar. Dinas Perikanan Provinsi Jabar mencatat, produksi perikanan KJA Jabar pada 2007 sebanyak 143.931,54 ton. Dari jumlah itu, 56.893,91 ton diantaranya, senilai Rp353,05 miliar, berasal dari aktivitas di KJA Cianjur.
    Geliat perekonomian yang dipicu oleh adanya kegiatan budiaya ikan di Cirata, telah memberi dampak ikutan yang luar biasa. Bisnis pakan misalnya. Para produsen seperti Suri Tani Pemuka (STP), Central Panganpertiwi (CPP), dan Sinta Prima, menghitung penyerapakan pakan ikan oleh para petani KJA Cirata sekitar 6.000—7.500 ton per bulan. Dengan harga terendah Rp4.500 per kg saja, omzet dari bisnis pakan mencapai Rp324 miliar—Rp405 miliar per tahun.
    Dari puluhan agen pakan yang ada di seputar Cirata, dua diantaranya sempat ditemui AGRINA. Kedua agen tersebut termasuk kelas menengah dan besar. “Setiap hari rata-rata kami bisa menjual 15 ton, dengan omzet 500 ton per bulan,” aku Denny Tanamal, yang sudah menjadi agen pakan STP sejak 1999. Sedangkan volume penjualan pakan Sinta yang diageni oleh H. Endang Nur Ikhwan sejak 1996, di Kota Cianjur, di atas 1.000 ton per bulan.
    Sesungguhnya, jenis pakan yang banyak beredar di Cirata sekitar 15 merk yang diproduksi lima pemain utama, yaitu Sinta, STP (Comfeed), CPP (Charoen), Cargill, dan Wonokoyo. Namun menurut Denny Tanamal, sekarang pakan kualitas satu jarang dipilih petani lantaran harganya tidak terjangkau. Oleh sebab itu, pakan yang beredar didominasi pakan murah yaitu kualitas dua dan tiga.

    Banyak Komponen
    Menurut Gatot Budiono, Sales Eksekutif Pakan Ikan Wilayah Cirata, PT Sinta Prima Feedmill, di luar pakan, masih banyak sarana produksi yang bisa diusahakan dari adanya kegiatan KJA di Cirata. Komponen pendukung budidaya yang menjadi ladang bisnis, antara lain benih ikan, jaring, bambu, pelampung (drum dan sterofoam), material bangunan, kantung plastik, gas O2, es balok, tong plastik untuk mengangkut hasil panen, sampai karet gelang.
    Contohnya benih. Untuk memproduksi 120 ton ikan mas konsumsi per hari saja, Cirata membutuhkan pasokan benih minimal 6 ton. Dengan harga benih saat ini Rp20 ribu per kg, omzet penjulan benih per tahun mencapai Rp43,2 miliar. Belum lagi menghitung dari benih nila, bawal, dan jenis ikan lainnya. Namun, jenis ikan yang menjadi andalan para petani saat ini yaki ikan mas, nila, dan bawal.
    Salah satu juragan benih ikan adalah H. Sulaeman. Pria yang sudah lima tahun bergelut di agribisnis perikanan itu mengaku, setiap hari mampu memasok benih ikan mas 1,5 ton, nila 2 ton, dan benih bawal 50 ribu—100 ribu ekor.
    Benih ikan mas yang masuk Cirata berasal dari pembenih di Bandung dan Subang, Jabar. Menurut H. Asep Saefulloh, petani KJA di wilayah Jangari, kalau petani mau mengejar cepat besar, mereka memilih benih dari Subang. Sebab, waktu panen bisa lebih cepat dua minggu dibanding asal Bandung. Satu kg benih ikan mas asal Subang berisi 100 ekor. Sedangkan asal Bandung, rata-rata 200 ekor. “Harga benih dari Bandung, rata-rata lebih tinggi Rp1.000 per kg dibanding produk Subang,” ungkapnya.
    Di luar itu, mereka yang kecipratan anugerah Cirata begitu banyak. Sebut saja tukang panggul pakan yang dibayar Rp5 per kg pakan, tukang bongkar benih dan hasil panen, dan pengusaha perahu. Demikian pula tukang parkir pakan, pemilik warung, kios pulsa, pemasok bahan makanan pokok, penjual BBM, dan pemilik angkutan umum.
    Cirata memang menarik perhatian banyak orang. Padahal pemanfaatkan untuk budidaya ikan, awalnya diprioritaskan bagi warga yang daerahnya terendam. Namun kini pelaku bisnis KJA datang dari berbagai daerah, seperti Sukabumi, Tasikmalaya, Jateng, dan Toraja-Sulsel. “Sejak 2005, saya mengadu nasib di Cirata,” ucap Yayan Taryana, orang Sukabumi, yang mengupayakan 20 kolam bawal. “Saya datang dari Tasikmalaya dan mulai usaha di Cirata tahun 1996,” imbuh H. Asep Suryadi Mulya, pemilik 48 kolam ikan mas. Yang jelas, “Sekarang, pengusaha KJA lokal dan pendatang jumlahnya seimbang,” papar Chaerul.

    Sampai Luar Pulau
    Produksi ikan dari Cirata tidak hanya diserap konsumen di Cianjur. Tapi pemasaranya menembus ke Jakarta, Banten, Lampung, Sumsel,  Jateng, Jatim, Kaltim, dan Papua. Meski demikian, sekitar 60% ikan Cirata, baik dalam bentuk hidup maupun segar, diserap pasar Jakarta.
    H. Sulaeman misalnya, dalam sehari rata-rata memasok pasar Jakarta sebanyak 4,5 ton ikan nila campur bawal. Di Jakarta, ikan tersebut diedarkan kembali oleh 9 pedangang.
    “Dalam beberapa tahun terakhir, saya lebih banyak memasok bawal dan nila. Sementara ikan mas tergantung ada tidaknya produksi dari petani,” tandas H. Sulaeman. Pasar lain yang ia garap yaitu Lampung yang dikirim dua hari sekali, Surabaya, dan Semarang.
    Selain menjadi bandar, H. Sulaeman juga memasok benih, mengusahakan 20 unit KJA, dan bermitra dengan 60 petani lainnya. “Kalau dihitung, saya baru bisa membantu memasarkan produksi dari 160 petani,” akunya.
    Nila dan bawal dipasarkan dalam keadaan mati namun masih segar (diblong). Sementara ikan mas bisa diblong atau masih hidup (dibalon/dikemas dalam kantung plastik beroksigen).
    Akhir Mei lalu, harga ikan mas diblong sekitar Rp9.800—Rp10.000 per kg. Kalau dibalon, Rp11.000 per kg. Sedangkan harga bawal diblong berkisar Rp7.400—Rp7.500 per kg.
    Sistem pembayaran kepada petani, dilakukan H. Sulaeman tiga cara: kontan, tunda sehari, atau kas bon. “Itu mah tergantung permintaan petani,” ucapnya. Sementara dari pembeli, rata-rata dibayar kontan, paling lama kirim sekarang bayar besok. Pria yang pada lima tahun lalu baru mampu menyewa satu unit KJA itu, mengaku, perputaran dari jual beli ikan saja sekitar Rp50 juta sehari.
    Di wilayah Jangari, yang berperan menjadi bandar ikan ada lima orang. Sedangkan total se Cirata, menurut H. Sulaeman, sekitar 50 orang. “Dalam keadaan normal, Cirata mampu menghasilkan 200 ton beragam ikan. Jumlah itu ditampung oleh para bandar yang kemudian disebarkan ke berbagai daerah,” imbuhnya.
       
    Perlu Penataan
    Menurut H. Endang, kontribusi Cirata terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat itu sudah jelas. Ia sendiri, yang daerahnya ikut terendam, merasakan hikmah dari pembangunan Cirata.
    Pada 1989 silam, H. Endang mulai terjun ke agribisnis dengan mengupayakan dua unit KJA. Kini, di Cirata saja, disamping mengelola 50 unit KJA, Pak Haji itu membina 15 sub agen pakan dan ratusan petani. Di samping itu, ia sedang mengembangkan pembenihan ikan secara modern dengan sistem indoor (tertutup).
    Inovasi yang dilakukan H. Endang merupakan salah satu upaya perbaikan budidaya ikan di Cirata. Sebab, daya dukung ekosistem Cirata tidak sebaik era 80-an. Terlebih ketika Cirata porak-poranda oleh serangan penyakit akibat virus KHV (koi herpes virus), pada 2002 silam.
    Para pelaku bisnis mengakui, kualitas lingkungan Cirata sudah menurun. Hal itu salah satunya tampak dari keberhasilan panen. Contoh ikan mas, tingkat keberhasilannya hanya 50%—62%. Sebelumnya bisa menembus 90%. Hal itu pula yang menjadi alasan beberapa petani beralih ke bawal. Selain tahan penyakit, umur panen bawal lebih cepat, hanya 40 hari. Sedangkan ikan mas, 3—4 bulan. Namun, harga bawal sangat pluktuatif,
    Kepadatan KJA juga mempengaruhi terhadap daya dukung perairan. Mestinya, sesuai dengan SK Gubernur Jabar No. 41 Tahun 2002, jumlah KJA di Cirata hanya 12.000 kolam (1% dari luas perairan waduk). Memang, penurunan kualitas air Cirata juga disebabkan oleh limbah pabrik, sampah rumah tangga, dan erosi dari hulu.
    “Sampai sekarang kami kesulitan untuk menata jumlah KJA. Sebab pengurangan itu harus dibarengi dengan penyediaan lapangan kerja baru,” kilah Chaerul. Yang jelas, lanjut dia, keberlangsungan Cirata menjadi tanggung jawab semua pihak terkait.
    Walupun masih bermasalah, peluang usaha KJA masih terbuka. Sebab, dari jumlah kolam yang ada, menurut Gatot, yang aktif hanya 40%—50%. Pemodal baru bisa memanfaatkan dengan sewa Rp8 juta per unit atau dibeli. Tentu, agar berhasil, para pemain harus berpacu dengan penyakit dan pergantian musim yang membawa upwelling (arus balik). (dadang wi)

    Sumber Berita :http://dadangbegang.multiply.com/journal/item/11

    Untung Gede, Bisnis Lele

    Posted by agrobisnisindonesia |

    Usaha lele tidak pernah ada matinya. Permintaan lele, baik konsumsi maupun benih terus meningkat. Maklum saja, lele telah menjadi salah satu ikan konsumsi favorit masyarakat kita. Tengok saja warung tenda pecel lele, berjamur di setiap kota. Petani pun senang membudidayakan lele lantaran postur tubuhnya lebih cepat bongsor dan pasarnya menganga.
    Kebutuhan lele konsumsi didalam negeri terus mengalami peningkatan sejalan dengan semakin populernya lele sebagai hidangan yang sangat lezat. Permintaan lele untuk konsumsi memang lumayan besar. Untuk pasar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) saja, setiap hari tak kurang membutuhkan pasokan 75 ton.  Sementara pasar Jateng dan Yogyakarta menyerap 20 ton sehari.
    Demikian pula di Jatim. Seorang petani lele di Desa Kromasan, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa tak kurang dari 30 ton lele segar per hari  di produksi petani ikan di Kabupaten Tulungagung. Produksi itu dikirim ke berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tak heran jika Tulungagung menjadi salah satu sentra produksi lele terbesar di Jawa Timur.
    Tidak ada spesifikasi khusus yang diminta oleh pedagang. Yang penting   lele dalam kondisi sehat dan segar.
    Harga lele tahun ini lumayan stabil. Sampai dengan akhir Juli lalu, harga di tingkat petani rata-rata Rp8.500 per kg. Diperkirakan, sampai akhir tahun ini harga lele masih tetap tinggi akibat  adanya kesulitan di sektor  produksi sehingga  pasokan menurun.
    Meskipun pasar terbuka lebar, ternyata bertani lele tidak mudah. Tingginya harga pakan dan berkembangnya berbagai jenis penyakit menjadi kendala petani. Dan, usaha tani lele  saat ini sangat bergantung pada sediaan bibit berkualitas, pakan, dan obat-obatan. Jika petani tidak menggunakan pakan jadi, alamat si lele tak bakal naik bobotnya. Jadi, bertani lele tidak bisa lagi dengan sistem sambilan seperti dulu, harus intensif dan dalam skala usaha yang memadai.(Dadang WI)

    Sumber Berita :http://dadangbegang.multiply.com/journal/item/5/Untung_Gede_Bisnis_Lele