Friday, July 1, 2011

POMELO DARI NAMBANGAN

Posted by agrobisnisindonesia |

Pomelo adalah sebutan untuk jeruk besar, yang di Indonesia lebih dikenal  sebagai jeruk bali atau jeruk gulung (Citrus grandis). Meskipun populer dengan sebutan jeruk bali, sentra jeruk ini bukan di pulau Bali melainkan di Nambangan, Kab. Magetan, Jawa Timur. Bulan-bulan Mei sd. Juli, biasanya jeruk ini akan membanjiri kakilima dan pasar-pasar swalayan kota Jakarta. Sebab bulan-bulan itulah musim panen raya jeruk bali. Meskipun sebenarnya jeruk ini bisa berbuah sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Musim panen raya ini terjadi karena sentra jeruk di Nambangan merupakan kebun-kebun rakyat yang tidak berpengairan teknis. Pada bulan September, ketika hujan turun untuk pertamakalinya, maka bunga jeruk pun akan bermunculan. Selanjutnya bunga akan mekar, menjadi pentil dan jeruk masak baru akan bisa dipanen paling cepat pada bulan April. Tetapi kalau jeruk ini diberi pengairan teknis, maka pembungaan dan pembuahannya bisa diatur hingga bisa dipanen sepanjang tahun. Sebenarnya tanaman jeruk bali tidak hanya terdapat di Nambangan. Meskipun merupakan tanaman asli Indonesia, sebaran jeruk Bali sudah mencapai Iran, Pakistan, India, Indochina, Malaysia sampai ke Cina dan Australia. Salah satu varietas pomelo bahkan sudah dikembangkan di negara-negara sub tropis dan populer dengan sebutan grapefruit. Ukuran grapefruit sedikit lebih kecil dari jeruk bali kita, dan kegunaannya hanya untuk konsentrat. Konsentrat grapefruit dingin lazim diminum pagi hari sebelum masyarakat kulit putih menyantap roti, kentang, daging dan sarapan lainnya.
Jeruk Bali merupakan pohon dengan pertumbuhan cabang mulai dari bagian pangkal batang. Karenanya, pertumbuhan jeruk bali cenderung menyamping dan bukannya meninggi. Ketinggian tajuk paling tinggi hanya sekitar 10 m. Batang jeruk bali berkayu keras dan liat. Sama halnya dengan jenis jeruk lainnya. Ketika muda, batang jeruk bali berduri besar-besar, kokoh dan sangat runcing. Hal ini terjadi pada perbanyakan dengan menggunakan biji. Namun setelah besar, duri-duri itu akan menghilang dengan sendirinya. Pada perbanyakan dengan cangkokan, duri pada batang itu tidak muncul. Daun jeruk bali berbentuk jorong dengan ujung meruncing dan bersayap pada bagian tangkainya. Warna daun hijau tua, tebal dan mengkilap. Bunga berwarna putih dan beraroma sangat harum, tumbuh pada ujung ranting. Bentuk buah bervariasi mulai dari bundar agak pipih, bundar sempurna sampai ke kecil pada bagian pangkal dan membesar di bagian ujungnya. Warna kulit buah bervariasi dari hijau gelap sampai ke hijau kekuningan setelah masak. Diameter buah rata-rata sekitar 20 cm. Kulit buah sangat tebal dan bergabus. Kulit buah biasa dijadikan mainan gerogak-gerobakan oleh anak-anak di pedesaan. Masyarakat Tionghoa mengolah kulit jeruk bali menjadi manisan. Daging buah terdiri dari segmen-segmen yang terbungkus oleh kulit yang lebih liat dari kulit luar. Biji berukuran sekitar 1 cm. dan terdapat pada bagian tengah segmen. Daging buah mudah diurai, warnanya mulai dari putih, kekuningan, merah jambu sampai ke merah tua. Rasanya bervariasi dari masam, manis masam, manis sampai ke manis bercampur rasa getir (agak pahit). Varietas yang sudah dilepas, umumnya berasa manis masam dan manis.
Menteri Pertanian RI telah melepas tujuh varietas jeruk bali. Ketujuh varietas tersebut adalah 1. Nambangan; 2. Nambangan Merah; 3. Nambangan Putih; 4. Magetan Tanpa Biji; 5. Sri Nyonya; 6. Ades Duku dan 7. Gulung. Thailand juga sudah lama mengembangkan jeruk bali secara serius dalam kebun-kebun berskala komersial. Itulah sebabnya dalam berbagai acara, potongan segmen jeruk bali selalu dihidangkan sebagai pencuci mulut bersama dengan semangka, pepaya, hamigua (sebangsa melon), nanas dan jambu air. Pisang jarang sekali dihadirkan sebagai buah meja sebagaimana di Indonesia, sebab Thailand memang tidak mengembangkan pisang secara lebih serius. Sebaliknya di Indonesia, jeruk bali dan jambu air jarang sekali dihadirkan sebagai buah meja karena budidayanya masih sangat terbatas. Australia pun saat ini sudah mengembangkan jeruk bali kita. Yang mereka kembangkan adalah varietas yang berkulit hijau tua, dengan bentuk bagian pangkal kecil dan ujung besar. Daging buah sangat merah dengan rasa manis segar tanpa rasa getir. Di Indonesia, varietas ini nyaris punah. Sebab beda dengan varietas lain yang cocok dikembangkan pada ketinggian dari 0 sd. 400 m. dpl, maka varietas yang dikembangkan di Australia ini cocoknya justru pada lahan berketinggian sekitar 500 sd. 600 m dpl. Umumnya jeruk bali tidak tahan dikembangkan pada ketinggian di atas 500 m. dpl. Apabila ditanam di Bandung yang berketinggian 700 m. dpl. misalnya, jeruk bali tetap mampu berbuah, namun isinya tidak ada, alias hanya kulit yang sangat tebal.
Perbanyakan tanaman biasanya dilakukan dengan cangkokan. Cabang yang dicangkok, umumnya yang sudah berdiameter 5 cm. Dengan bibit cangkokan demikian, tanaman jeruk bali akan langsung berbuah pada tahun kedua. Selain dengan cangkokan, dewasa ini perbanyakan dengan okulasi juga banyak dilakukan. Sebagai batang bawah, dipilih varietas yang batangnya kokoh dengan perakaran kuat dan berbuah lebat meskipun buahnya kecil-kecil dan masam. Batang atasnya berupa varietas-varietas unggul, baik yang sudah dilepas oleh Menteri Pertanian maupun yang belum. Cara penyambungannya kebanyakan dengan mata tempel (okulasi). Kadang-kadang ada juga penangkar yang menyambung dengan grafting (sambung pucuk). Meskipun belum begitu populer sebagai buah meja maupun untuk industri, benih jeruk bali sudah diperbanyak oleh para penangkar bibit buah. Konsumennya merupakan individu penggemar jeruk bali yang akan menanamnya di halaman rumah atau di kebun-kebun pribadi. Hingga volume benih yang diproduksi masih sangat kecil. Apabila ada pekebun yang berniat mengembangkan jeruk bali secara serius, meskipun dalam luasan yang terbatas, mereka akan memproduksi benih sendiri. Misalnya yang pernah dilakukan oleh seorang pekebun di kawasan Sumedang, Jawa Barat.
Tanaman jeruk bali sangat peka terhadap kekeringan. Hingga sebenarnya, kebun jeruk bali skala komersial, mutlak memerlukan pengairan teknis. Kebun-kebun pomelo di Australia dan Thailand, diberi pengairan dengan sistem tetes (drip). Sementara pekebun-pekebun di Nambangan biasa mengairi tanaman mereka dengan dileb (digenangi air). Apabila tanaman tidak diairi pada saat kemarau panjang, batang dan cabang-cabang utama akan pecah kulitnya dengan bekas luka memanjang. Dari luka akan keluar getah (blendok). Dari luka inilah masuk bakteri atau cendawan yang akan mematikan batang atau cabang tersebut. Karenanya penyakit ini oleh masyarakat disebut sebagai penyakit blendok. Cara menanggulangi penyakit blendok adalah dengan menebang cabang yang telah terinfeksi tadi dan membakarnya. Luka bekas tebangan diolesi pasta penutup luka atau dengan bakterisida. Apabila serangan masih ringan, cabang dan batang bisa diolesi kapur atau bubur bordo (campuran kapur, belerang dan terusi). Usaha paling efisien untuk mencegah datangnya penyakit adalah, dengan memberinya air cukup pada musim kemarau. Dengan cara ini, selain penyakit tidak datang, produktivitas buah juga akan meningkat. Selain itu, pemberian air juga akan bisa mengatur pembungaan serta pembuahan. Dengan dibuahkan di luar musim, harga jeruk bali akan menjadi lebih tinggi dari harga di saat musim raya.
Modal bertanam pomelo bervariasi mulai dari Rp 20.000.000,- per hektar sampai dengan Rp 50.000.000,- per hektar untuk skala ekonomis minimal 10 hektar. Variasi angka ini disebabkan oleh ada atau tidaknya sumber air. Kalau sumber air berupa sungai, waduk atau rawa bisa dimanfaatkan, maka investasinya hanya sekitar Rp 20.000.000,- per hektar. Tetapi kalau harus embangun tampungan air hujan atau sumur dalam, maka biayanya akan membengkak sampai Rp 50.000.000,- per hektar. Skala ekonomis minimal 10 hektar, dalam arti kebun tersebut akan dikelola dengan manajemen modern menggunakan tenaga profesional. Apabila kebun akan dikelola sendiri atau hanya mengupah tenaga kasar, maka skala minimalnya tidak ada. Populasi tanaman per hektar bisa sampai 400 batang (jarak tanam 5 X 5 m). Jarak tanam rapat ini mensyaratkan adanya pemangkasan rutin. Hasil jeruk setelah tanaman berumur di atas 5 tahun sejak tanam, akan mencapai  30 butir, dengan berat sekitar 1,5 kg per butir. Hingga total hasil per hektar akan mencapai 20 ton buah per panen raya. Dengan harga jual di tingkat petani Rp 2.000,- per kg, maka pendapatan kotor petani Rp 40.000.000,- Hingga sebenarnya agribisnis pomelo relatif masih cukupmenarik unhtuk dicoba. (R) * * *
Sumber berita:http://foragri.blogsome.com/pomelo-dari-nambangan/     

0 comments:

Post a Comment